BIOGRAFI MUAWIYAH BIN ABU SUFYAN PDF

Ada yang diceraikannya dan ada pula yang meninggal. Berikut adalah nama-nama mereka: Maisun binti Bahdal al-Kalbiyah. Muawiyah menceraikannya karena Maisun tidak betah tinggal di istana Muawiyah yang besar dan lebih mencintai desanya. Kanud binti Qarazhah. Kanud adalah saudara Fakhitah.

Author:Zulusho Dira
Country:Switzerland
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):9 February 2016
Pages:192
PDF File Size:13.90 Mb
ePub File Size:20.46 Mb
ISBN:777-9-68226-532-3
Downloads:54102
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mokora



Ada yang diceraikannya dan ada pula yang meninggal. Berikut adalah nama-nama mereka: Maisun binti Bahdal al-Kalbiyah. Muawiyah menceraikannya karena Maisun tidak betah tinggal di istana Muawiyah yang besar dan lebih mencintai desanya. Kanud binti Qarazhah. Kanud adalah saudara Fakhitah. Muawiyah menikahinya setelah Fakhitah wafat. Dia lah yang bersama Muawiyah saat pembebasan Cyprus.

Muawiyah mentalaknya karena sebuah persoalan. Anak-anak Muawiyah Muawiyah juga memiliki beberapa anak. Ini adalah nama-namanya yang tercatat: Yazid bin Muawiyah. Ia lahir dari Maisun binti Bahdal. Saat Muawiyah menceraikan Maisun dan kembali ke desanya, Yazid mengikuti ibunya.

Jadi, masa kecilnya dihabiskan di desa ibunya, menghirup udara segar dan bahasa Arab fasih. Abdurrahman bin Muawiyah. Ibunya adalah Fakhitah. Abdurrahman meninggal sewaktu masih kecil. Abdullah bin Muawiyah. Abdullah adalah anak dari Fakhitah. Ia anak yang terbelakang mental dan sangat lemah. Ramlah binti Muawiyah.

Namun, Muawiyah sendiri mengatakan bahwa, "aku masuk Islam dalam peristiwa Umrah Qadha tahun 7 H, tetapi aku menyembunyikannya dari bapakku". Hal itu dapat dimengerti karena situasi saat itu masih mencekam. Selain itu posisi Muawiyah cukup sulit, mengingat Abu Sufyan pada waktu itu masih kafir, bahkan Abu Sufyan adalah pemimpin Quraisy dalam melawan Nabi Muhammad. Muawiyah juga ikut perang Hunain dan Nabi Muhammad memberinya seratus unta dan 40 uqiyah emas dari harta rampasan perang Hunain.

Abu Bakar bertindak tegas dengan memerangi mereka. Muawiyah ikut salah satu pertempuran itu, yakni Perang Yamamah, perang melawan Musailamah si nabi palsu. Setelah pemberontakan internal selesai, kaum Muslimin mengalihkan pandangan mereka ke luar, yakni pembebasan negeri di sekitar mereka dari pemimpin zalim. Abu Bakar mengirim pasukan ke banyak tempat, salah satunya adalah Syam. Dalam kontingen pasukan Syam, ada salah satu pasukan yang dikomandani oleh Muawiyah.

Pada zaman Umar , Muawiyah ditugaskan untuk membebaskan kota ini. Namun, ternyata Qaisariyah memilliki benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat.

Setelah Qaisariyah dikepung dalam waktu cukup lama, Muawiyah pun berhasil menerobos kota tersebut. Dikatakan prajurit Qaisariyah yang tewas mencapai Setelah bertarung melawan orang-orang Romawi, Muawiyah dan prajuritnya berhasil menang. Untuk menahan hal itu, Muawiyah membagi pasukan menjadi dua, yakni pasukan musim panas dan pasukan musim dingin. Selain itu, Muawiyah menutup celah-celah di kota-kota perbatasan agar tak diserang.

Muawiyah sempat memimpin penyerangan musim panas melawan Byzantium di 22 H. Mereka adalah orang-orang yang tidak akrab dengan laut. Namun, Muawiyah menyadari pentingnya angkatan laut dan di zaman Umar ia mulai membangunnya. Sayangnya, Umar tidak mengizinkan Muawiyah memakai angkatan laut karena ia tidak mau kaum Muslimin habis ditelan laut karena mereka tidak familiar dengan laut. Angkatan laut baru dipergunakan pada zaman Utsman bin Affan untuk membebaskan Cyprus.

Bahkan, Utsman terus memberi Muawiyah kekuasaan sehingga Muawiyah menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Utsman yang paling berpengaruh.

Namun, karena Umair sering sakit-sakitan, ia mengundurkan diri dari jabatannya. Utsman pun memberikan Himsh kepada Muawiyah. Setelah itu Alqamah wafat, Utsman pun memberikan Palestina kepada Muawiyah. Hal ini membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya. Sampai akhir hayat Utsman , Muawiyah mengontrol daerah Syam. Pada zaman modern, Syam meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, dan Syria -bisa dibayangkan seluas apa daerah kekuasaan Muawiyah.

Misalnya, pada 25 H ia menuju Anthakiyah dan Tarsus, tahun 26 H ia kembali melakukannya. Tahun 31 H, Muawiyah berangkat ke Daruliyah. Perbatasan yang berbentuk kepulauan ia serahkan penjagaannya kepada Habib bin Maslamah. Muawiyah juga beberapa turun langsung memimpin pasukannya sampai merambah celah bukit di Konstantinopel. Pembebasan Cyprus Setelah sebelumnya ditolak Umar , Muawiyah kali ini mencoba meyakinkan Utsman untuk memakai angkatan laut demi membebaskan Qubrush Cyprus.

Utsman mengizinkannya dengan memberi syarat: -Muawiyah harus membawa istrinya -Pasukan yang berangkat harus dengan kemauan sendiri. Jika ada yang tidak mau berangkat maka tidak apa-apa Pembebasan dimulai Walaupun Muawiyah mempersilahkan masyarakat untuk memilih ikut ke Cyprus atau tidak, kekhalifahan berhasil mengumpulkan armada hingga 1. Mereka tertarik karena sebuah hadist dari Ummu Haram binti Milhan istri sahabat Nabi Ubadah bin Shamit yang menyebutkan bahwa akan ada sekelompok dari umatnya yang "mengarungi laut seperti raja-raja di singgasana".

Pada 28 H M mereka pun berangkat. Di pelabuhan, Abdullah bin Qais al-Jasi, panglima angkatan laut bermusyawarah dengan Muawiyah dan sahabat Nabi yang lain. Pasukan segera mengepung ibukota Cyprus dan mengatakan mereka tidak datang untuk mengambil-alih Cyprus, akan tetapi meminta mereka bekerjasama dengan kekhalifahan.

Sebab selama ini Cyprus menjadi daerah kekuasaan Byzantium sehingga menjadi duri dalam daging kekhalifahan. Tidak butuh waktu lama, Cyprus pun menyerah dan menyetujui syarat-syarat berikut: Bila Cyprus menyerang kaum Muslimin, ia tidak akan dibela lagi Cyprus harus mengabarkan gerak-gerik Byzantium Cyprus harus membayar jizyah kepada kekhalifahan sebesar 7.

Kali ini Muawiyah datang kembali dan mengambil-alih Cyprus. Setelah menguasai Cyprus, Muawiyah menyadari bahwa ternyata Cyprus hanyalah pulau yang lemah. Tradisi militer mereka lemah sekali dan sering dijadikan boneka oleh Byzantium. Oleh karena itulah, Muawiyah menempatkan Ia dituduh macam-macam oleh sebagian rakyatnya, mulai dari tuduhan menggelapkan harta, boros, mengangkat keluarganya sendiri untuk menduduki jabatan penting, dan sebagainya.

Di masa-masa ini, Muawiyah terus membantu Utsman. Mendebat Perusuh Pada suatu hari di tahun 33 H, ada sekelompok orang yang mencari ribut di Kufah sampai hampir menyulut pertempuran. Utsman memerintahkan Muawiyah untuk "memperingati mereka dengan tegas, membuat nyali mereka ciut, menakut-nakuti mereka, dan mendidik mereka" agar tidak membuat kerusuhan lagi. Muawiyah pun berkali-kali mendebat mereka dan berkali-kali pula menang.

Di akhir debat mereka kalah dan marah, lalu merenggut jenggot Muawiyah. Muawiyah pun mengancam mereka agar jangan macam-macam terhadap dirinya. Ancaman itu membuat mereka mundur.

Muawiyah mengirim surat kepada Utsman dan mengatakan bahwa mereka "berbicara dengan lidah setan". Utsman mengirim mereka ke Kufah kembali. Namun, karena mereka macam-macam kembali, Utsman kemudian mengirim mereka ke Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid , gubernur Himsh.

Di sini mereka baru tidak berani macam-macam karena Abdurrahman adalah anak Khalid bin al-Walid dan dia adalah seorang laki-laki yang berkarakter sangat keras seperti ayahnya. Muawiyah Mengikuti Forum Antar gubernur Kerusuhan yang makin parah menyebabkan Utsman mengundang para gubernur dan sahabat Nabi untuk berunding tentang apa yang harus dilakukannya terhadap para pemberontak ini.

Di forum ini, Muawiyah mengusulkan untuk segera mengirim pasukan ke mereka dan dia sendiri akan mengatasi pemberontakan di Syam. Namun, Utsman lebih tertarik dengan perdamaian dan tidak menerima usul Muawiyah. Sebelum pulang kembali ke Syam, Muawiyah memperingatkan Utsman bahwa ia kemungkinan akan segera dibunuh oleh pemberontak dan Muawiyah menawarkan pasukan Syam untuk melindungi Utsman. Utsman mengatakan ia sudah tahu hal itu, tetapi ia menolak perlindungan dari Muawiyah karena ia tidak mau merepotkan orang-orang Madinah atas kedatangan pasukan Syam.

Para sahabat Nabi mengirimkan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman tetapi mereka kalah jumlah. Utsman dibunuh dan para sahabat yang melindunginya terluka. Dan tidak ada satu orang sahabat Nabi Muhammad yang terlibat dan menyetujui pembunuhan itu. Saat mendengar berita pembunuhan itu, Muawiyah berpidato di depan penduduk Syam, bersumpah akan menuntut balas kematiannya.

Penduduk Syam sendiri bersumpah akan membantu Muawiyah dengan mengorbankan nyawa mereka. Namun, mereka terbagi tiga kelompok tentang hal ini: Pertama, mereka harus diqishash secepatnya sebelum baiat kepada Ali. Inilah pendapat Muawiyah dan pendukungnya. Muawiyah berpendapat jika qishash ditunda, pembunuhnya akan berbaur di kehidupan sehari-hari kaum Muslimin dan mereka akan sulit dilacak. Lagipula, Muawiyah adalah wali Utsman dan di antara saudara-saudara Utsman yang lain, Muawiyah lah yang kekuatannya paling besar.

Kedua, mereka harus diqishash tetapi setelah Ali bisa mengendalikan keadaan sehingga tenteram kembali. Jika qishash dilaksanakan sekarang juga, maka akan berakibat keadaan makin kacau. Para perusuh akan melipatgandakan tekanannya kepada kekhalifahan. Ini adalah pendapat Ali dan pendukungnya. Mayoritas sahabat Nabi menjadi pendukung Ali. Ketiga, uzlah mengasingkan diri. Ada sahabat-sahabat Nabi yang tidak mau terlibat dalam permasalahan ini dan mereka pun pindah dari pusat konflik.

FIGURING THE SACRED RICOEUR PDF

Muawiyah bin Abu Sufyan

Ia selalu berada di garis depan pada saat pertempuran. Umar bin Al-Khattab pernah menugaskannya sebagai gubernur Jordania, kemudian menjadi gubernur damaskus setelah saudaranya, Yazid, meninggal. Ia juga pernah ditugaskan Ustman bin Affan sebagai gubernur seluruh wilayah Syam. Pasca terbunuhnya Ustman bin Affan, ia menuntut balas atas pembunuhan tersebut.

EL PRINCIPE DE MAQUIAVELO COMENTADO POR NAPOLEON PDF

Mu'awiyah bin Abu Sufyan

Oleh: Mushlihin, S. Muawiyah bin Abi Sufyan lahir lima tahun menjelang Rasulullah menjalankan dakwah di kota Makkah. Berbagai kemenangan ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin al-Khathab. Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tejadi beberapa komplik antara kaum muslimin. Di antaranya adalah perang Shifin. Perang yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan ini berakhir dengan tahkim yang merugikan Ali sebagai pemegang tampuk pimpinan tertinggi kaum muslimin. Bahkan peristiwa ini menyebabkan pecahnya pendukung Ali dan mejadi sebab terbunuhnya Ali.

HAL FOSTER LA POSMODERNIDAD PDF

Muawiyah I

Ia seorang bangsawan dari suku Quraish. Nama panggilannya, Abu Abd. Tetapi akhirnya masuk Islam setelah ia mendapat jaminan berupa keamanan dengan berlindung dirumahnya pada peristiwa penaklukkan Kota Mekkah. Yang pertama, Masyun binti Unaif al-Qalbiyah.

Related Articles