JURNALISME SASTRAWI PDF

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Pada Maret , dari sebuah apartemen kecil di dekat Harvard Square, jantung kota Cambridge, Amerika Serikat, saya mengirim sebuah email kepada dua mailing list yang anggota-anggotanya kebanyakan orang Indonesia: wartawan, seniman, dosen, peneliti, dan sebagainya. Isinya sebuah pertanyaan yang diterangkan dengan agak panjang lebar. Mengapa di Indonesia tak ada surakabar di mana orang bisa menulis narasi secara panjang dan utuh? Mengapa jurnalisme sastrawi literary journalism tak berkembang di kalangan wartawan, sastrawan, seniman, dan cendekiawan Indonesia? Pertanyaan itu muncul sejak semester sebelumnya ketika saya mengikuti matakuliah non-fiction writing dalam program Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard.

Author:Zulkim Kagadal
Country:Gabon
Language:English (Spanish)
Genre:Life
Published (Last):8 June 2009
Pages:159
PDF File Size:8.56 Mb
ePub File Size:2.60 Mb
ISBN:930-2-58522-278-7
Downloads:69110
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulkishakar



Type a keyword to search. Jurnalisme Sastrawi bersama Andreas Harsono Mengapa memulai karir di luar negeri? Apakah faktor represi dari pemerintahan Orde Baru juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan Mas Andreas saat itu?

A Indonesia pada waktu itu memang mengalami masa tersulit sepanjang sejarahnya di mana kebebasan berpendapat, berekspresi, dan mengkritik menjadi barang mahal sekaligus langka. Arus berita tidak berjalan lancar. Sekali ada yang mengkritik, pemerintah bertindak tegas. Media banyak yang dibredel, jurnalis banyak yang dibui.

Lalu dari situ muncul semacam kekhawatiran bagi saya. Terlebih lagi saya memiliki warna dalam tubuh saya, maka saya memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Ada semacam ketakutan. Dan akhirnya bekerja di Nation dan Star. Jadi faktor represi kebebasan bisa dibilang menjadi faktor juga. Apa yang dipelajari di sana? A Pada waktu itu, saya mendapatkan informasi tentang hal ini dari Goenawan Mohamad.

Ketika itu saya didorong untuk ikut andil di dalamnya. Kemudian saya ambil bagian dan terpilih untuk berpartisipasi dalam Nieman Fellowship ini. Apa saja yang saya pelajari selama di sana yang jelas tidak jauh dari jurnalisme.

Bahwa menurut Bill, jurnalisme memuat sembilan elemen yang antara satu dan lainnya tidak bisa dipisahkan. Membentuk satu kesatuan utuh di mana masing-masing berperan signifikan dalam menopang jurnalisme itu.

Bahwa sejatinya jurnalisme harus berkewajiban pada kebenaran, menjunjung tinggi loyalitas terhadap warga, menekankan verifikasi, menegakan independensi, menyediakan forum untuk kritik, pemantau kekuasaan, membuat hal menarik tapi relevan, menjaga berita agar komprehensif dan proporsional, lalu mengikuti hati nurani.

Namun seiring berjalannya waktu, muncul elemen baru yang lahir sesuai berkembangnya zaman melalui internet. Dengan adanya internet menuntun kepada masyarakat untuk mempunyai tanggung jawab dan hak atas berita yang mereka dapatkan.

Dari sini muncul pula gelombang semacam community journalism, citizen journalism, sampai media online yang tidak dapat dielakkan kehadirannya. F Bagaimana posisi jurnalisme Indonesia di kawasan Asia Tenggara dibanding negara yang lain? Mengingat Indonesia bisa disebut sebagai negara demokrasi terbesar saat ini?

A Perlu diketahui bahwa negara-negara di Asia Tenggara memiliki karakter yang serupa. Entah dari segi ekonomi, sosial, politik, dan sejarahnya. Kesebelas negara di Asia Tenggara lahir dan terbentuk atas semangat perjuangan melawan penindasan, yang dimulai dari masa penjajahan di era lampau dan kesewenangan pemerintah pasca kemerdekaan.

Dalam hal ini rezim tertentu. Di Thailand, sering kita dengar perlawanan warganya melawan junta militer. Di Myanmar, kasus Muslim Rohingya masih menemui jalan terjal dalam penyelesaiannya. Di Malaysia, mereka menentang perilaku koruptif besar-besaran yang dilakukan oleh Perdana Menteri Najib Razak. Lalu di Indonesia, kita paham bahwa negara ini lahir melewati berbagai rintangan dan problematika bangsa yang sangat kompleks. Kasus HAM, ketidakadilan, sampai penindasan terhadap rakyat kecil.

Banyak sekali kasus serupa yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. Ini artinya apa? Bahwa sebenarnya posisi jurnalisme Indonesia dengan negara lain tidak jauh beda; jurnalisme tumbuh seiring banyaknya permasalahan kompleks di masing-masing negara.

F Lalu, berbicara perihal jurnalisme sastrawi, sebenarnya apa yang ingin disampaikan melalui medium ini? Mengingat Mas Andreas merupakan salah satu pelopor dalam penulisan jurnalisme sastrawi. A Pada hakikatnya, jurnalisme sastrawi hanyalah sebuah gaya atau bentuk penulisan dalam jurnalisme. Mengungkap fakta dan kebenaran dengan reportase namun menggunakan bahasa sastra.

Bentuk sebuah tulisan seperti yang diketahui, ada bermacam-macam. Kemudian ada pula jenis feature dengan permainan pola yang bervariasi.

Di samping itu, masih dengan gaya penulisan, bahwa penggunaan jurnalisme sastrawi ini membuat penulis lebih bisa mengulik secara dalam materi yang akan disampaikan. Ia seolah bercerita dengan tulisannya sekaligus membeberkan fakta berdasarkan reportase dan data-data penunjang. Sebuah majalah yang dikenal dengan pemakaian gaya jurnalisme sastrawi.

Bagaimana perjalanan Majalah Pantau saat itu? Dan apa yang belum tercapai dengan Majalah Pantau? A Saya tidak pernah menyesal dengan apa yang saya lakukan bersama Majalah Pantau. Karena adanya faktor permasalahan yang cukup kompleks, mulai dari kesulitan finansial, tekanan dari dapur redaksi yang memicu perbedaan pendapat, serta mungkin juga kejenuhan dalam mengolah berita, akhirnya Pantau tidak bisa melanjutkan petualangannya.

Namun saya tetap bahagia dengan apa yang sudah kami jalankan lewat majalah ini. Apabila ditanya apa yang belum tercapai dengan Pantau, saya pikir tidak ada. Justru terkadang perasaan rindu terhadap suasana kantor cukup sering menghantui. Bagaimana awak redaksi melempar lelucon, mengerjakan deadline, tidur di kantor, dan masih banyak lagi momen-momen kecil tapi bermakna yang saya dan teman-teman redaksi dapatkan.

Itu yang mungkin menyebabkan perasaan rindu muncul. F Dewasa ini, pergerakan jurnalisme cenderung ke arah serba cepat dan instan. Faktor kualitas produk tak lagi jadi prioritas karena terpenting adalah soal hype yang bombastis agar menarik minat pembaca. Bagaimana Mas Andreas memandang fenomena ini? A Ini tidak bisa dihindari ketika internet sudah melakukan penetrasi ke tiap sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Kehidupan global terus berputar dan selama itu pula kita dihadapkan pada permasalahan yang pelik untuk menyesuaikan diri. Sama halnya dengan jurnalisme. Tidak dapat dipungkiri fenomena semacam ini cukup menganggu pikiran. Pada hakikatnya, kualitas jurnalisme harus tetap dijaga apapun bentuknya.

Ini tidak bisa ditepikan begitu saja. Menyusun sebuah berita harus berlandaskan pada hal-hal semacam koreksi data, informasi pelengkap, kelengkapan sumber, sampai rekaman wawancara yang kelak dapat menguatkan sisi dan kontrol kualitas dari berita itu.

Akan tetapi kebanyakan dari media Indonesia tidak memperlakukan hal itu. Terlebih media online yang hanya mengutamakan kehebohan semata. Judul bombastis tapi tidak disertai bobot berita yang memadai. Hal tersebut diperparah juga dengan korporasi media yang kian menjamur. Kepentingan yang dibawa sudah berbeda.

Padahal jika dibiarkan kondisi semacam ini lama-lama akan berbahaya. Perubahan besar-besaran dalam arah komunikasi tidak dicermati dengan baik yang berujung kepada ketidakpercayaan masyarakat.

Bisa runtuh reputasi media nantinya. Hal tersebut bisa menjalar ke sesuatu yang lebih masif. Seyogyanya mereka melakukan investasi berharga terhadap jurnalisme dengan menyuntikan dosis yang tepat agar kualitas tetap terjaga. Logikanya sederhana. Jurnalisme sudah menjadi pilar penting dalam demokrasi. Apabila kepercayaan masyarakat runtuh terhadap jurnalisme dengan adanya penurunan kualitas yang cukup banyak, maka demokrasi akan mengalami hal serupa.

Sebaliknya, jika jurnalisme tetap berjalan seperti semula di mana penerapan aspek-aspek penunjang diperhatikan betul, maka kondisi masyarakat juga ikut membaik. Ambil contoh saja New York Times. Dalam proses pengolahan beritanya, mereka tidak memberikan perlakuan berbeda antara media cetak dan media online.

Satu perusahaan, satu atap, standarisasi sama, kode etik sama, namun divisi berbeda. Ini seperti apa yang dikatakan Bill bahwa satu redaksi tidak perlu membedakan dengan standar berbeda. Ketika regulasi etik sudah ditentukan, maupun standar peliputan dan penulisan sudah ditetapkan, maka itu yang musti ditaati semua elemen di keseluruhan bagian tanpa terkecuali.

Hasilnya apa? New York Times memetik buah konsistensinya menjaga kualitas dengan berhasil menghimpun konsumen hingga 3 juta orang. Memang perlu waktu tidak sebentar serta teguh menjaga prinsip. Namun sekali lagi ketika media berhasil menjaga kualitas pemberitaannya dan tidak asal-asalan dalam menyusun naskah, maka keberhasilan baik untuk media itu sendiri dan untuk masyarakat banyak dapat dipenuhi.

Namun bukan berarti ini menyoal dari sisi jumlah konsumen atau pembaca yang berhasil dihimpun saja. Ada manfaat yang lebih besar ketika media mampu menegaskan dan menjunjung tinggi etika serta kualitasnya.

F Kondisi itu yang sepertinya dialami oleh dua media besar negara ini, Kompas dan Tempo. Meski berada di satu atap, ada semacam perbedaan kualitas yang dihasilkan antara versi cetak dengan online. A Benar, itu juga yang pernah saya kritik kepada Kompas dan Tempo.

Jangan dibuat perbedaan antara versi cetak dan online. Kualitas tetap harus dipertahankan. Terkadang mereka hanya memikirkan perputaran ekonomi belaka tapi tidak dengan standar ataupun mutu jurnalisme. Ketika kita melihat Kompas atau Tempo versi cetak, kita akan melihat bagaimana mereka mengedepankan kedalaman materi yang disusun melalui proses panjang.

Namun ketika kita melihat mereka di media online, seolah hal tersebut hilang.

APPLIED SOFTWARE ARCHITECTURE CHRISTINE HOFMEISTER PDF

Equality PDF

Andreas Harsono Foto Audio. Order a copy Copyright or permission restrictions may apply. Who was an outsider, and when? To learn more about Copies Direct watch this short online video. In he was recipient of the Nieman Fellowship of Harvard University. Since then he has been searching his way through the Internet and other sources.

CHANGELING WINTER MASQUES PDF

95 Tahun The New Yorker Menyajikan Jurnalisme Sastrawi

Harold Ross mendirikan The New Yorker pada dekade awal abad 20 dengan mengedapankan satir, humor, dan kritik—kebanyakan lewat karikatur. Ia hadir sebagai era baru jurnalisme dengan segala macam ciri khasnya. Eustace Tilly merupakan karakter dalam serial humor yang tayang di majalah tersebut selama satu tahun pertama mereka terbit. Karakter itu didesain Rea Irvin, penata artistik pertama mereka dan hingga saat ini menjadi maskot khas The New Yorker. Irvin pula yang menciptakan font khusus untuk The New Yorker.

PSYCHOLOGIA SZEFA PDF

Saat itu media cetak tengah bersaing ketat dengan popularitas siaran televisi. Sebenarnya pada tahun an sudah mulai muncul esai-esai naratif yang ditulis oleh beberapa penulis seperti Ernest Hemingway, A. Liebling dan Joseph Mitchell. Bahkan pada tahun John Harsey menulis Hiroshima sebanyak satu majalah penuh di majalah The New Yorker, dan berhasil meraih penghargaan Pulitzer Prize.

Related Articles